Jakarta – Badan Riset kemudian Inovasi Nasional (BRIN) lalu Universitas Diponegoro (Undip) menjalin kolaborasi riset untuk pengembangan metode alternatif pendeteksi logam berat yang digunakan larut dalam limbah industri.Kepala Pusat Riset Fotonik dari Organisasi Riset Nanoteknologi kemudian Material BRIN Isnaeni mengatakan kerja sejenis riset itu dilatarbelakangi adanya cemaran logam berat, baik di tempat lingkungan perairan maupun tanah.
“Kandungan logam berat umumnya terlarut dalam limbah industri, seperti industri pupuk, cat, mineral tambang, elektronik, bahkan sisa pewarna batik,” ujarnya pada Rabu, 25 Oktober 2023.
Kerja identik riset hal tersebut untuk mengidentifikasi jenis serta kadar logam berat dengan surface plasmon resonance (SPR) sensor, sintesis nano partikel tungsten disulfide (WS2), lalu pelapisannya dengan pulsed laser deposition (PLD) sebagai sensitive layer.
Ia menjelaskan untuk mendeteksi cemaran logam berat diperlukan metode yang mana efektif lalu efisien. Metode deteksi logam berat yang mana sudah ada saat ini umumnya memerlukan perawatan yang komplek, berbiaya tinggi, dan juga waktu pengukuran yang dimaksud lama.
Kerja identik riset yang disebut bertujuan mengembangkan metode alternatif guna mendeteksi cemaran logam berat dengan akurasi tinggi. Riset itu menjadi metode alternatif dengan akurasi tinggi hingga ke orde ppm dengan preparasi sederhana dan juga waktu pengukuran yang tersebut singkat.
Peneliti Pusat Riset Fotonik BRIN Wildan Panji Tresna mengungkapkan ada beberapa logam berat yang mana tidak ada mampu dideteksi oleh alat ukur tertentu.
“Dengan tambahan lapisan sensitive layer yang dimaksud kami tawarkan, harapannya mampu melakukan pengukuran dengan jangkauan tambahan luas,” kata dia.