Jakarta – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset kemudian Teknologi, Nadiem Anwar Makarim mengatakan upaya menciptakan literasi dini sangatlah penting. Jika sukses menciptakan literasi pada usia dini, kata Nadiem Makarim, maka seumur hidup anak akan tumbuh jiwa kemudian kecintaan terhadap buku. Dengan demikian, akan terbangun daya literasi yang tersebut lebih lanjut tinggi.
“Tapi bukunya ada atau tidak? lalu bagaimana kualitasnya?” kata Nadiem dalam pembukaan Kongres Bahasa Indonesia Ke-12 di area Jakarta pada Rabu malam, 25 Oktober 2023.
Nadiem menceritakan pengalamannya setiap berkunjung ke daerah, yang tersebut selalu memohonkan untuk melihat kondisi perpustakaan dalam sekolah-sekolah. Ia mengatakan, buku di area setiap perpustakaan sekolah dasar (SD) rata-rata semuanya sama. Buku-buku tampak menumpuk dalam perpustakaan, dengan debu yang dimaksud tebal serta terkadang ada yang mana diikat dengan tali rafia.
Pernah sekali, ia membuka tumpukan buku dalam perpustakaan SD yang digunakan terikat tali rafia. Nadiem menemukan buku tentang bagaimana cara bercocok tanam. Kemudian, ada buku-buku lain yang mungkin diinginkan oleh orang tua agar dibaca oleh anaknya.
“Menurut saya, ini adalah salah satu kesalahan fatal sistem pendidikan. Tidak belaka di tempat Indonesia, namun juga di area negara lain. Harusnya, kalau mau meningkatkan daya literasi anak, tolong pilih buku-buku yang mau dibaca oleh anak-anak. Biar anak-anak itu yang digunakan memilih,” ujarnya.
Prinsip dasarnya menurut Nadiem adalah menyediakan buku-buku paling seru yang akan disukai anak-anak. Bisa buku yang ada di dalam Indonesia, sanggup juga buku dari luar Indonesia yang digunakan dapat diterjemahkan lalu dicetak jutaan eksemplar. Buku-buku itu kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah yang tingkat literasinya terendah.
Upaya ini sebenarnya sudah pernah berjalan. Sebanyak 15,4 jt eksemplar buku disebarkan ke tambahan dari 20 ribu sekolah. Baik pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini juga SD dalam daerah 3T. “Ini adalah komitmen untuk memperbaiki kondisi literasi kita melalui Merdeka Belajar episode ke-23,” ungkap Kepala Badan Bahasa, E. Aminuddin Aziz.
Langkah tersebut, kata Nadiem, cukup berhasil. Ketika buku-buku itu sampai dalam daerah tertinggal, terdepan dan juga terluar atau 3T para guru juga dilatih untuk menceritakan ulang isi buku. Kemudian , sekolah-sekolah juga diminta untuk menghasilkan sesi membaca setiap hari. Selain itu, penataan buku di area perpustakaan juga dibuat agar lebih tinggi menarik, buku-buku berjejer layaknya di area toko buku. “Dan akhirnya, anak-anak itu menyerbu buku-buku itu.”
Ia menambahkan, paling tiada perpustakaan menjadi tempat distribusi buku. “Semua perpustakaan kita latih, (bahwa buku) dianjurkan untuk dibawa pulang. Buku itu untuk dibawa pulang juga dikembalikan,” ucapnya.
Nadiem juga berpesan semestinya, peletakan buku pada lingkungan sekolah dijalankan tersebar, jangan hanya sekali terpusat di tempat perpustakaan. Sekolah dapat menghasilkan beberapa pojok baca yang digunakan berisi bermacam-macam buku menarik bagi anak-anak.
Selalu update info terkini. Simak breaking news dan juga berita pilihan dari Tempo.co di tempat kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.